Beranda / Informasi / Potensi Desa
Buah dari Keaktifan Organisasi
Rabu 10 Mei 2017

Teras – Penggemar masakan olahan Mie dan Bakso pasti tidak asing dengan cemilan satu ini. Ya, Pangsit.

Pangsit salah satu makanan cemilan “wajib” sehari-hari yang harganya murah dan rasanya gurih dan renyah.

Siapa sangka ternyata di Dukuh Maluan RT 4 RW 03 Desa Teras, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali terdapat usaha rumahan yang membuat pangsit.Pangsit terbuat dari bahan alami dan tidak menggunakan pengawet sehingga layak dikonsumsi.

Dia adalah Sumiyati. Wanita empat puluh tiga tahun ini memulai usaha membuat pangsit kurang lebih 10 tahun yang lalu. Pangsit yang dibuat oleh Sumiyati adalah  pangsit seledri dan pangsit ketela. Uniknya usaha ini adalah adanya pangsit ketela berwarna ungu yang jarang ada di pasaran.

Sumiyati mengaatakan ide awal untuk membuat pangsit adalah dari ditunjuknya Sumiyati untuk kegiatan PKK.

“Dulu awal mulanya dari PKK. Ditunjuk atas nama PKK, mengadakan pelatihan membuat pangsit walaupun tak lama kemudian macet, karena keuangan tidak jelas dan anggotanya yang sibuk, sehingga dilanjutkan perorangan. Jadi ini usaha perorangan tapi atas nama PKK. Jadi kalau ada lomba PKK antar desa atau antar kecamatan maka jenis usaha ini yang ditampilkan, Ujarnya.”

Keunggulan pangsit ibu Sumiyati ialah rasanya yang empuk, gurih dan harganya yang lebih murah. Pangsit buatan Sumiyati bisa bertahan sampai 2 bulan tanpa bahan pengawet. Proses produksi hanya dilakukan setengah hari, yakni dari jam 08.00 sampai 12.00. Dalam usaha Pangsit ini Sumiyati dibantu dengan bantuan 4 orang pekerja yang diberi upah Rp 25.000 setiap orang.  Dalam sehari Sumiyati mampu memproduksi 25 Kg pangsit.

Dalam proses pembuatannya, Sumiyati hanya mencampur beberapa bahan seperti gandum, telur, daun bawang, seledri, garam,dan kaldu.Untuk pangsit ketela, ditambahkan dengan ketela yang telah dihaluskan kemudian digoreng sampai matang.

Dalam memasarkan pangsit, Sumiyati menjualnya dengan sistem grosir ke salah satu toko di Pasar Boyolali Kota dengan harga Rp.36.000 setiap kilogramnya. Untuk keuntungan penjualan pangsit per bulan nya, Sumiyati mengaku tidak bisa menjawab secara pasti. “Tidak pasti, karena tergantung permintaan pemesan dan tidak ada laporan keuangannya,”terangnya.

Hambatan yang dialami oleh Sumiyati ialah pemasaran yang tidak sesuai target, sehingga banyak stok pangsit yang masih disimpan di dapur. Pangsit buatan Sumiyati juga belum mendapat izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari dinas terkait. Izin tersebut diperlukan sebagai izin jaminan usaha makanan rumahan yang dijual dan beredar di masyarakat memenuhi standar keamanan makanan atau izin edar produk pangan.

“Kemarin sudah ada pegawai dari kabupaten yang datang kesini untuk meninjau usaha pembuatan pangsit ini, namun belum di setujui karena syaratnya belum lengkap. Salah satunya adalah dapur harus pisah, sedangkan disini masih menggunakan dapur milik pribadi. Nanti misalnya sudah di setujui ijinnya, pangsit bisa dijual ke swalayan,Ujarnya”.

Sumiyati berharap supaya izin dari pihak terkait keluar sehingga produknya bisa dipasarkan di swalayan dan sampai ke luar Boyolali.

Potensi Desa Lainnya