Beranda / Informasi / Potensi Desa
Makanan Rakyat Cita Rasa Internasional
Rabu 10 Mei 2017

Teras – Zaman dahulu hidup di kawasan pedesaan memiliki citra yang tidak terlalu bagus jika tidak ingin di katakan jelek. Di wilayah desaTeras Kecamatan Teras menyimpan sejuta potensi Usaha Kecil Menengah (UKM) seperti usaha pembuatan tempe, tahu dan makanan ringan.

Sutrisno yang berusia 72 tahun ini telah membuat usaha tahu dan tempe selama 10 tahun. Ide awal Sutrisno yang beralamat di dusun Teras RT 2 RW 1 ini bermula dari berkunjung ke rumah adiknya di Lampung yang juga berprofesi sebagai pembuat tempe dan tahu.

Setelah banyak bertanya mengenai lika-liku pembuatan tahu dan tempe, akhirnya sejak tahun 2007 Sutrisno pun memiliki ide untuk menggeluti usaha pembuatan tempedan tahu di Boyolali. Awalnya Sutrisno meminjam kepada sebuah bank di Boyolali untuk membantu permodalan dalam usahanya tersebut. Kini usaha Sutrisno telah berkembang hingga dia dapat dibantu oleh 3 orang pekerja yakni 2 orang untuk mencetak bentuk tahu dan tempe serta seorang lagi untuk membantunya menggoreng.

Dalam membuat tempe dan tahu, Sutrisno membeli bahan baku kedelai dari Solo dengan modal kurang lebih dua juta rupiah. Kedelai tersebut diolah dengan peralatan dan mesin pencetak yang sederhana sehingga tidak mengandung pengawet. Dalam sehari, biasanya Sutrisno mampu delapan puluh kilogram tahu dan dua puluh kilogram tempe.Hasil produksinya pun telah dapat ditemukan di Pasar Boyolali kota. Dalam sehari Sutrisno mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp.750.000, dari harga pokok penjualan satu juta rupiah.

“Jadi setiap pagi diantar sendiri ke sentra di Pasar Boyolali kota, nanti disana sudah ada yang membeli, dibeli secara kiloan boleh, secara eceran juga boleh. Harga jual untuk  setiap plastik dijual dengan harga Rp 2000 sampai Rp 3000 tergantung besar dan kecilnya barang,” Ungkap Sutrisno. Keuntungan Sutrisno bukan hanya dari penjualan tahu dan tempe saja namun juga dari ampas kedelai. Ampas kedelai biasanya digunakan sebagai pakan hewan ternak “Ampasnya saya jual ke tetangga dengan rincian setiap 5 kg ampasdibeli empat ribu lima ratus rupiah,mereka kadang nitip uang dulu ke saya untuk dibelikan ampas,”  Ujar Sutrisno sambil tertawa.

Banyak Kendala yang dihadapi oleh Sutrisno, salah satunya ialah tidak stabilnya harga kedelai dan harga jual tempe dan tahu dipasaran, kemudian kesulitan pemasaran karena banyaknya saingan dan kurangnya jumlah pekerja, karena untuk membuat tempe & tahu diperlukan pekerja yang ulet dan tekun. Selain itu Sutrisno juga kesulitan dalam modal usaha. Dia berharap pihak terkait memberikan tambahan modal kepada dirinya karena Sutrisno berharap untuk mengolah biogas dari limbah kedelainya sehingga lebih bermanfaat dan ekonomis.

Potensi Desa Lainnya