Beranda / Informasi / Potensi Desa
Jahitan Lokal Kualitas Internasional
Rabu 10 Mei 2017

Teras – Kabupaten Boyolali selain dikenal tidak hanya sebagai penghasil susu namun juga dikenal dengan industri tekstilnya. Sekian industri tekstil dan produksi tekstil memilih Boyolali sebagai tempat produksinya baik yang berskala besar maupun yang berskala rumahan.

Salah satu potensi unggulan di Desa Teras adalah usaha tekstil dengan nama “LIA GARMENT” . Usaha ini dimiliki oleh Supriyono dan istrinya Mujiyem

Lelaki lima puluh tujuh tahun ini beroperasi tahun 2002 dan memilih Dukuh Deresan RT 06 RW 03, Desa Teras, Kabupaten Boyolali sebagai tempat produksinya. Usaha konveksi ini sekarang sudah memiliki 100 orang karyawan, baik laki-laki maupun perempuan. Usaha ini setiap harinya mampu menghasilkan sebanyak 500-600 buah jeans dan 450-500 buah kemeja.

Lia Garment sekilas memang industri rumah tangga namun siapa sangka pesanan konveksi di telah sampai luar negeri.Mujiyem juga membuka komunikasi melalui telepon melalui nomer ponselnya di 081229240052 untuk menerima pesanan yang datang kepadanya.

“Kalau orderan dari wilayah Boyolali jarang, tetapi Alhamdulilah konveksi kami banyak menerima orderan dari beberapa instansi di wilayah Soloraya seperti Solo, Sukoharjo. Mayoritas pesanan adalah seragam PNS, seragam Polisi, seragam hajidan lainnya, Ujar Supriyono.

“Kemarin saya baru selesai mengerjakan kaos pesanan dari Polda Metro Jaya, selain itu juga orderan dengan beberapa pabrik di Jakarta, Bandung dan Bali, seperti Pabrik multi garmen, BAP, Laksmi Rani, Bali Nirwana, “ imbuh Mujiyem, stri Supriyono.

Mujiyem juga mengatakan produk konveksinya juga telah sampai ke mancanegara, seperti Eropa & Amerika Serikat. Produknya yang telah sampai luar negeri adalah pesanan produk baju pantai, baju musim panas, dan kemeja.

Mujiyem juga mengatakan dirinya pernah mendapatkan orderan dari Timor Leste untuk pembuatan seragam polisi setempat. Mujiyem mengatakan usaha konveksinya bisa sampai ke luar negeri karena diirnya mempunyai rekanan bisnis di bidang tekstil yang sering mengekspor ke Eropa & Amerika. Dia juga memiliki teman yang dulunya warga negara Indonesia namun sekarang sudah menjadi warga negara Timor Leste dan bekerja di Timor Leste. Jaringan pertemanan yang luas inilah membuat konveksi Lia Garment sering mendapat pesanan dari Timor Leste.

Dalam mendapatkan bahan dasar kain, usaha Mujiyem membeli bahan dasar kain dari Solo, Bandungdan  Jakarta. Konveksi miliknya dalam proses produksinya sebelumnya mendapat contoh sampel dari pabrik atau instansi mengenai model yang akan dibuat baru kemudian dilakukan proses penjahitan. Keunggulan dari konveksi miliknya ialah jahitanyanglebih bagus daripada di konveksi lainnya.

Dalam sebulan, jumlah keuntungan yang diperoleh Mujiyem tidak pasti karena bergantung pada banyaknya orderan yang di dapat.

Mujiyem sering mengalami kendala pada tidak stabilnya harga kain bahkan terkadang kain yang diperlukan kerap tidak ada di pasaran. Mujiyem mengatakan juga kerap menalangi pembayaran dari biaya produksi karena telatnya pembayaran dari pesanan sebelumnya.

 “Ya yang namanya usaha,  kadang pembayaran jahitan sering tidak tepat waktu, sudah jatuh tempo tapi tidak dibayar-bayar, ketika ditagih sering mundur-mundur, jadi saya sering tombok untuk menggaji karyawan dan untuk beli kain” ujarnya.  Mujiyem juga menambahkan jika tidak dirinya kerap hanya mengambil jasa jahit saja karena tidak stabilnya pasokan kain di pasaran.

Kendala tersebuttidak mengurangi semangat Supriyono dan Mujiyem untuk terus mengembangkan bisnis konveksi yang telah mereka rintis sejak tahun 2002 ini. Mereka berharap agar harga kain di pasaran stabil serta pemerintah desa memberikan bantuan modal bagi pengusaha rumahan seperti mereka.

Potensi Desa Lainnya